Behavior Based Safety Program

three_supervisors_bbs_300_pixels_webif you try to develop BBS or behavior based safety program in your company, maybe we can follow this steps :

Initiate Program
• Enlist Management Support
– Evaluate Culture
– Perception Questionnaire
• Appoint a Steering Committee
– Diverse Group of Willing Participants
– Educate Committee

Target Specific Behaviors
• Analyze Accidents over 3 Year Period
– Target Behavioral Causes Most Likely to Reoccur (Root And Contributing Causes)
• Identify Behaviors Related to High Risk
• Record Employee Behavioral Concerns and be sure to provide Feedback.
• Determine if there are Uniformity Issues

Develop Operational Definitions
•Develop a comprehensive Definition of the Targeted Behavior for the purpose of Training and Education.
– Define Desirable Safe Behaviors Relative to Tasks, Scope of Work, etc.

Read the rest of this entry

34 BAKAT… Anda termasuk yang Mana?

  1. talent-mapACHIEVER, punya stamina yang tinggi dan selalu bekerja keras, kepuasan hidupnya muncul dari kesibukan dan memberikan hasil.Tidak pernah puas dengan apa yang diperolehnya sekarang. Targetnya dipasang tinggi tinggi agar supaya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan Memiliki api yang membara dalam dirinya yang mendorongnya untuk berbuat lebih banyak, agar bisa menerima lebih banyak juga
  2. ACTIVATOR, dapat membuat sesuatunya terjadi dengan mengubah pikiran menjadi tindakan. “Kapan saya dapat mulai ?”. Pertanyaan ini terus-menerus terlontar dalam hidupmu. Kau tidak sabar untuk bertindak. Berani mengambil tindakan walaupun informasinya belum cukup karena baginya salah adalah belajar
  3. ADAPTABILITY, melakukan tugas sesuai dengan apa yang diterimanya disaat itu Bisa menyesuaikan dirinya terhadap perubahan rencana yang tidak disangka sangka tanpa ada tanda tanda kecewa. Adaptability, berarti hidup didalam momen tertentu walaupun rencanamu berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya Perubahan adalah temanmu bukan musuh
  4. ANALYTICAL, mencari alasan dan sebab sebab.Dia tidak bisa menerima rumor kecuali fakta dan hanya fakta lah yang dapat diterimanya. Orang yang berbakat Analytical selalu membutuhkan bukti. Manteranya adalah ” tunjukkan pada saya bagaimana yang anda nyatakan tersebut terdokumentasi dan bahwa itu benar !”
  5. ARRANGER, dapat mengorganisir akan tetapi juga memiliki kelenturan yang membantu pengaturannya selalu berusaha memikirkan kembali sesuatu. Slogan nya adalah “ pasti ada jalan yang lebih baik dari itu !” Kau seorang koordinator. Berhadapan dengan situasi yang sulit yang melibatkan banyak faktor, kau senang mengatur semuanya, meluruskan dan meluruskannya lagi sampai kau merasa yakin bahwa kau telah mengaturnya dalam konfigurasi yang sangat produktif.
  6. BELIEF, memiliki tatanilai inti tertentu yang tidak pernah berubah.Baginya hasrat untuk menjadi bagian dari kegiatan yang bermanfaat bagi dunia adalah yang paling Utama. Komitment terhadap keluarga adalah sangat bernilai. Mendahului orang lain dan menjaga etika merupakan bagian besar dari penampilannya. Bagimu, sukses itu lebih daripada uang dan gengsi. Read the rest of this entry

Occupational HEALTH RISK ASSESSMENT (HRA)

240px-biohazard_symbolsvgHRA/Penilaian risiko kesehatan : suatu prosedur yg tersistematis untuk mengidentifikasi potensi dari bahaya kesehatan, mengevaluasi dari paparan, secara subjective dan atau objective, dan bertujuan untuk menentukan dan menilai efektivitas dari pengendalian yang dibutuhkan (Schoeman, 1994:7).

Selain itu HRA pada pekerjaan bertujuan untuk membantu monitoring dari program occupational hygiene, program surveilans kesehatan ( Goede1998, Van Der Merwe, 1998:14) dan juga sebagai alat untuk edukasi kesehatan kerja dan program kesadaran dari kesehatan kerja.

Metode HRA yang terintegrasi terdiri dari 9 tahapan :

1. Fase 1 : Merencanakan HRA
pelaksanaan HRA yang baik harus terstruktur, terencana dan terorganisir untuk mengumpulkan informasi dan mendokumentasikan hasil dari HRA.

2. Fase 2 : Antisipasi
Mengenali proses atau area yang akan di lakukan HRA, dsni juga menentukan team yg akan ikut terlibat ( spesialist).

3. Fase 3 : Rekognisi
proses untuk mengenali bahaya di tempat kerja, dsni bisa menggunakan berbagai tool untuk mengidentifikasi bahaya. Pada fase ini dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Penelitian ( Research) : mengumpulkan informasi dari data base hygienist, medical records, hasil penelitian, jurnal ilmiah, dan publikasi dari pemerintah dan industri.
b. Survey jalan selintas (Walk-through survey): penilaian oleh team dengan mendatangi area kerja, ketika melakukan walk-through survey kita harus mencatat beberapa hal yaitu :
- nama dan kelompok yang terlibat di dalam walk-through survey
- tanggal dan waktu pemeriksaan
- nama departemen, seksi dan sub-seksi tempat diadakannya walk-through survey
- jumlah pekerja yang bekerja di area tsb
- flow diagram atau deskripsi proses
- identifikasi bahaya kesehatan yang ada di area seperti kimia, fisika, biologi, ergonomik, dan psikologi
- deskripsi dari pengendalian yang sudah ada dan efektivitasnya, termasuk alat pelindung diri yang digunakan.

4. Fase 4 : Identifikasi Bahaya
hasil dari walk-through survey di pelajari, melihat akibat buruk yang dapat ditimbulkan dari bahaya spesifik yang ada di lingkungan kerja tsb.

Read the rest of this entry

Dampak Training – Gone with the Wind

training

Ditengah arus perubahan lingkungan bisnis yang kian melaju, banyak perusahaan yang kian sadar bahwa kompetensi karyawan yang unggul merupakan salah satu senjata andalanuntuk merebut kemenangan. Perjalanan membangun keunggulan kompetensi SDM dengan kata lain, merupakan “jalur sutra” yang mesti ditempuh untuk menuju kejayaan sejati.

Dalam konteks ini, proses training atau pelatihan merupakan salah satu elemen yang paling banyak dilakukan untuk mendongkrak kompetensi para karyawan menuju level yang diharapkan. Faktanya, data best practices menunjukkan bahwa perusahaan kelas dunia rata-rata mengalokasikan dana sebesar US$ 1,612 per tahunnya untuk melatih setiap karyawan yang mereka miliki (untuk perusahaan di Asia rata-rata adalah US$ 543). Selain itu, rata-rata jumlah jam pelatihan yang diikuti oleh setiap karyawan perusahaan kelas dunia tersebut adalah 62 jam per tahun (sementara untuk rata-rata perusahaan di Asia adalah 40 jam per tahun).

Fakta diatas menunjukkan bahwa perusahaan kelas dunia menginvestasikan dana dan waktu yang relatif

besar untuk melakukan kegiatan training. Harapannya, proses pelatihan ini akan mampu secara kontinyu meningkatkan keunggulan kompetensi para karyawannya. Dalam kasus di Indonesia, kita juga melihat banyak perusahaan – baik kelas menengah atau besar – yang rajin melakukan kegiatan training untuk para karyawannya, baik berupa kegiatan in-house training atau berpartisipasi melalui kelas public training. Kenyataan semacam tentu saja patut disaluti sebab ia menjadi sinyal bahwa perusahaan domestik-pun punya komitmen yang elok untuk mendidik dan melatih para karyawannya.


Pertanyaan berikutnya yang lebih penting adalah : sejauh mana efektivitas kegiatan training yang telah banyak dilakukan itu? Adakah kegiatan training sekedar acara refreshing belaka demi “menghabiskan” budget yang telah dianggarkan? Adakah kegiatan training sekedar proses sesaat dan tak pernah memberikan value bagi kinerja perusahaan? Tentu saja, sejumlah pertanyaan ini valid untuk diajukan lebih-lebih ketika dirasakan makin tidak adanya koneksi antara training dengan kinerja karyawan dan perusahaan secara keseluruhan. Pertanyaan itu pada sisi lain, mengingatkan kita bahwa evaluasi untuk mengukur efektivitas training merupakan komponen yang bersifat vital untuk membuktikan bahwa anggaran training yang kita investasikan tak cuma menguap sia-sia. Dalam hal ini, kita lantas perlu menengok pada metode 4 Level Evaluasi Training yang diperkenalkan oleh Don Kirkpatrick, salah seorang pakar training dari USA.

Level pertama untuk mengevaluasi efektivitas training adalah sekedar menanyakan kepuasan dari para peserta mengenai mutu materi dan juga instruktur dalam proses pelatihan yang baru saja mereka ikuti.

level kedua adalah mengukur aspek learning para peserta – yakni apakah pengetahuan para peserta menjadi kian bertambah setelah mengikuti kegiatan training. Evaluasi level kedua ini umumnya dilakukan dengan cara memberikan tes untuk menguji daya serap para peserta mengenai beragam materi yang telah diajarkan dalam proses pelatihan.

Read the rest of this entry

Cara Membuat MSDS/LDKB

msdsBagaimana membuat material safety data sheet ( MSDS) atau lembar data keselamatan bahan ( LDKB)???

untuk membuat MSDS (Material Safety Data Sheet) bisa kita peroleh dari supplier produk yang kita beli, tapi terkadang tidak lengkap atau tidak standar. Padahal fungsi MSDS adalah agar kita :
1. Mengetahui potensi bahan kimia
2. Menerapkan teknologi pengendalian dalam melindungi pekerja
3. Merencanakan pelatihan ( ini perlu karena bagaimana pun yg kontak dengan b3 adalah pekerja)
4. Mengembangkan rencana pengelolaan bahan kimia di tempat kerja

Rincian isi MSDS standar meliputi :

– Identifikasi bahan kimia : nama bahan, sinonim, rumus kimia, kode produksi, nama dan alamat perusahaan pembuat/distributor/import

ir, nomor telepon keadaan darurat

-Komposisi bahan kimia : deskripsi bahan/jenis, sifat, identitas, dan konsentrasi bahan yang berbahaya bagi keselamatn dan kesehatan, batas pemaparan yang tidak boleh dilampaui

-Identifikasi potensi bahaya : terhadap kesehatan, dan akibatnya bagi mata, kulit, saluran cerna, pernafasan, karsinogen, teratogen, dan fungsi reproduksi

-Tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan : meliputi penyelamatan diri sebelum ada pertolongan medik, dan bila ada antidote untuk bahan kimia

-Tindakan penganggulangan kebakaran : antara lain mengenai sifat bahan mudah terbakar, titik nyala, suhu nyala sendiri, batas suhu terrendah dan tertinggi mudah terbakar, media/jenis pemadam api, bahaya khusus, instruksi bagi petugas pemadam kebakaran, bahaya peledakan.

-Penanganan bila terjadi kebocoran atau tumpahan : untuk jumlah yang kecil atau besar, alat pelindung diri, dan tindakan yang diperlukan bila terjadi hal yang tidak dikehendaki

-Penanganan dan penyimpanan bahan : terutama mengenai cara penanganan pencegahan pemaparan kondisi tempat penimpanan bahan, penetapan bahan yang ‘incompatible’, syarat khusus penyimpanan lainnya.

-Pengendalian pemaparan dan alat pelindung diri : tentang cara pengendalian teknis, penyediaan alat pelindung diri

-Sifat fisik dan kimia bahan : mengenai bentuk bahan, padat/cair/gas, bau, warna, massa jenis, titik didih, titik lebur, tekanan uap, pH, daya larut, dan sebagainya

-Stabilitas dan reaktivitas : dicantumkan sifat stabilitas dan reaktivitas, kondisi yang harus dihindari, bahan yang tidak boleh tercampur (incompatible), bahan dekomposisi, bahaya polimerisasi

-Informasi toksikologi : mengenai nilai ambang batas, LD-50, LC-50, efek lokal, pemaparan akut, dan kronik, termasuk efek karsinogen, teratogen, reproduksi, mutagen, dan interaksi bahan dengan obat, alkohol

-Informasi ekologi : karakteristik bahan yang berbahaya bagi lingkungan, dampak lingkungan, degradasi, dan bioakumulasi

-Pembuangan limbah : informasi tentang teknis pembuangan limbah termasuk pembuangan wadah bekas bahan kimia

-Informasi tentang pengangkutan/transportasi bahan kimia : meliputi peraturan internasional, pengangkutan melalui darat, laut dan udara

-Peraturan perundangan : termasuk pemberian tanda/simbol dan label, standar dan norma yang berlaku
Informasi lain yang perlu : bagi keselamatan dan kesehatan pekerja seperti pelatihan, saran penggunan bahan, dan persyaratan, sumber informasi lebih lanjut

HIRADC OHSAS 18001;2007 clause 4.3.1

Mencoba untuk menulis mengenai Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control/ HIRADC. Saya mau sedikit membahas mengenai apa itu HIRADC dan apa aja yang harus ada di HIRADC sesuai dengan persyaratan OHSAS 18001 khususnya versi 2007.

HIRADC adalah salah satu bagian dari standar ohsas 18001;2007 clause 4.3.1, Di indonesia biasa juga disebut sebagai risk assesment atau identifikasi bahaya dan aspek K3L. di klausa itu menyebutkan bahwa organisasi harus menetapkan, membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko dan menentukan pengendalian bahaya dan risiko yang diperlukan.

Di dalam klausa ini menjelaskan mengenai proses/hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksananaan HIRADC :
1. Hazard/Bahaya
2. Risk/Risiko
3. Penentuan untuk pengendalian bahaya dan risiko ( harus mempertimbangkan hierarki dari pengendalian : eliminasi, subtitusi, isolasi, engineering control, penandaan/peringatan/administrative control, PPE)

4. Perubahan dari management
5. Pencatatan dan dokumentasi dari kegiatan HIRADC (misalnya : HIRADC register)
6. Tinjauan yang berkelanjutan.

Proses Implementasi Ergonomi di Perusahaan

Ergonomik merupakan ilmu untuk merancang atau mendisain lingkungan kerja atau pekerjaan agar sesuai dengan pekerjanya ( fit the job to the man).

Bagaimana mendisain program ergonomi di tempat kerja, berikut ada sedikit gambaran dan pendekatan yang bisa kita gunakan untuk menerapkan ergonomi di tempat kerja. Penerapan ergonomi di indonesia terus terang masih tertinggal jauh, dibandingkan di luar negeri.

3 Langkah Awal Untuk Membangun Program Ergonomi di Tempat Kerja:

  1. Membangun komitmen dari manajemen ( ini sangat diperlukan dalam setiap penerapan program, karena sistem yang baik harus ditunjang oleh dukungan dari top management).
  2. Mengadakan pelatihan ergonomi untuk mendorong adanya partisipasi dari seluruh karyawan.( memeberikan pengetahuan kepada pekerja akan pentingnya penerapan ergonomi demi meningkatkan produktivitas di tempat kerja).
  3. Membentuk working group yang bertanggung jawab untuk penerapan program ini ( team P2K3/ HSE)

Perancangan Program Ergonomi Dapat Dilakukan Dengan 2 Pendekatan

  1. pendekatan Reaktif:

Yaitu perancangan program dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang sudah ada agar lebih ergonomis, sehat dan aman.

  1. Pendekatan Pro Aktif:

yaitu perancangan program dilakukan untuk membuat kondisi lingkungan kerja yang baru agar lebih ergonomis, sehat dan aman

(ref: wells dkk, 2003. Participative Ergonomic Blueprint, www.iwh.on.ca)

ditulis oleh : Aifa Destriani

Kenapa Tidak menyuruh Ibu itu Mengiris Bawang?

Minggu pagi, 23 Januari 2009, ada seorang anak kecil yang sedang menangis di tepi sungai. Dia sudah beberapa jam di tepi sungai tersebut. Air matanya belum juga kering, lalu ada seorang anak kecil sebayaya yang datang.
“Kenapa kamu menangis Amir?” sapa Hary
“sudah sejak kapan km erdiri di situ?” sahut Amir
” sudah beberapa lama, tapi kenapa kamu menagis?”
” aku hanya ingat ceritamu, Hari. bisakah kamu menceritakannya lagi?

Baiklah saudaraku, aku akan menceritakannya padamu.
Suatu Hari di negeri hujan, ada sebuah keluarga yang sangat miskin. Keluarga itu bahkan makan sehari-hari masih harus bekerja memeras keringat. sampai suatu hari pada suatu malam, dari pagi keluarga itu kelaparan.
Ayah dan ibu mereka hanya mendapatkan sepotong roti yang dibagkan kepada ketiga anaknya.
Karena sangat lapar, sang Ibu pun menangis sambil berdoa.
terjadilah keajaiban yang luar biasa, air mata Ibu utu berubah menjadi Intan Berlian.
Lalu dalam beberapa hari saja keluarga tersebut menjadi kaya.

Karena sudah merasa bahagia, sang Ibu akhirnya jarang sekali menangis. Tetapi ternyata sang Ayah sangat tamak. hari demi hari sang Ayah menyiksa Ibu agar dia menjadi semakin kaya. Beberapa waktu kemudia sang Ibu tidak kuat lagi dengan siksaan Ayah, lalu sang Ibu meninggal dunia.

Read the rest of this entry

sebenarnya Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 dan Proper KLH sama ataukah berbeda?

Proper KLH adalah kependekan dari Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dimana Proper dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk menilai kinerja perusahaan terhadap pengelolaan lingkungannya.

Sebenarnya tujuan dari SML ISO 14001 dengan PROPER  sama yaitu pengelolaan, pengendalian dan pamantauan lingkungan. Prinsipnya untuk Lingkungan.

Kalau dibilang sama sebenarnya tidak sama, tetapi kalau dibilang berbeda sebenarnya juga tidak jauh berbeda.

Bisa dibilang sama karena tujuannya secara prinsip adalah sama seperti yang telah disebutkan. Sedangkan disebut tidak sama karena dalam Proper KLH lebih cenderung hanya sebagai audit kinerja lingkungan, sedangkan dalam SML ISO 14001 tidak hanya audit kinerja lingkungan tetapi meliputi audit sebuah sistem untuk mengelola lingungan.

Proper K3LH secara garis besar hanya sebagai berikut;

  • Evaluasi terhadap hasil pengelolaan tiga jenis limbah yaitu Limbah cair, Limbah padat (bisa B3 dan Non B3) dan Limbah yang dilepaskan ke udara. Evaluasi ini dilakukan pada effluen limbah cair, pengelolaan limbah B3, dan emisi yang dilepaskan ke udara.
  • Perusahaan peserta proper ditunjuk oleh KLH. Sehingga tidak semua perusahaan menjadi peserta Proper pusat. tetapi pada tahun 2008 sudah ada yang namanya proper daerah, jadi perusahaan yang tidak dilakukan audit oleh KLH sudah diaudit oleh Bapedalda atau Badan Lingkungan Hidup setempat.
  • Auditor oleh Kementerian Lingkungan Hidup
  • Sistem penialaian dengan menggunakan peringkat. Kategori dapat dilihat di www.menlh.go.id secara garis besar ada 4 kategori yaitu: Read the rest of this entry

Identifikasi Aspek k3L, Tonggak awal ISO 14001

Dalam sebuah SML (sistem manajemen lingkungan) setelah sebuah organisasi berkomitmen, yang dituangkan dalam kebijakan K3L perusahaannya hal yang harus segera dilakukan adalah identifikasi aspek K3L.

Identifikasi aspek K3L sama dengan penilaian bahaya dan resiko. perbedaan istilah ini hanya perbedaan pemakaian bahasa dan lingkup yang digunakan. dalam K3 untuk identifikasi lebih dikenal dengan bahaya dan resiko karena fokusnya lebih ditekankan kepada bahaya dan resikonya terhadap manusia / karyawan. Sedangkan dalam segi Lingkungan lebih dikenal dengan nama aspek dan dampak. Dalam ulasan kali ini saya menggunakan bahasa Aspek K3L.

Mengapa identifikasi aspek K3L menjadi hal terpenting dalam SML atau SMK3 (OHSAS)?

identifikasi K3L adalah sebab dan akibat. Identifikasi Aspek K3L menjadi sebuah prioritas utama karena dengan adanya identifikasi yang jelas tentang bahaya/aspek dan resiko/dampak  akan tampak jelas aspek/bahaya mana yang dianggap sangat penting, menengah atau kurang penting. Dari sini pula lah akan muncul yang namanya progam, tujuan dan sasaran, pelatihan terhadap karyawan, sebenarnya penetapan kebijakan K3L juga bisa di ambilkan dari hasil dari identifikasi ini sampai rencana tindakan darurat.

Metode Identifikasi Aspek K3L sendiri sebenarnya tidak ada standar wajib yang harus diikuti. hanya saja ebagian besar menggunakan 2 parameter utama. yaitu tingkat kemungkinan dan tingkat resiko.
Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.