Identifikasi Aspek k3L, Tonggak awal ISO 14001

Dalam sebuah SML (sistem manajemen lingkungan) setelah sebuah organisasi berkomitmen, yang dituangkan dalam kebijakan K3L perusahaannya hal yang harus segera dilakukan adalah identifikasi aspek K3L.

Identifikasi aspek K3L sama dengan penilaian bahaya dan resiko. perbedaan istilah ini hanya perbedaan pemakaian bahasa dan lingkup yang digunakan. dalam K3 untuk identifikasi lebih dikenal dengan bahaya dan resiko karena fokusnya lebih ditekankan kepada bahaya dan resikonya terhadap manusia / karyawan. Sedangkan dalam segi Lingkungan lebih dikenal dengan nama aspek dan dampak. Dalam ulasan kali ini saya menggunakan bahasa Aspek K3L.

Mengapa identifikasi aspek K3L menjadi hal terpenting dalam SML atau SMK3 (OHSAS)?

identifikasi K3L adalah sebab dan akibat. Identifikasi Aspek K3L menjadi sebuah prioritas utama karena dengan adanya identifikasi yang jelas tentang bahaya/aspek dan resiko/dampak  akan tampak jelas aspek/bahaya mana yang dianggap sangat penting, menengah atau kurang penting. Dari sini pula lah akan muncul yang namanya progam, tujuan dan sasaran, pelatihan terhadap karyawan, sebenarnya penetapan kebijakan K3L juga bisa di ambilkan dari hasil dari identifikasi ini sampai rencana tindakan darurat.

Metode Identifikasi Aspek K3L sendiri sebenarnya tidak ada standar wajib yang harus diikuti. hanya saja ebagian besar menggunakan 2 parameter utama. yaitu tingkat kemungkinan dan tingkat resiko.

Nah yang harus dipersiapkan dalam identifikasi Aspek K3L sendiri adalah data-data yang menunjang, seperti flow chart / diagram, dokumen RKL/RPL/AMDAL, data harian dll, laporan bulanan, P&ID, dan semua data yang berhubungan dengan dengan aktifitas perusahaan. Dan tentunya yang melakukan identifikasi haruslah orang yang berkompeten untuk melakukan identifikasi Aspek K3L ini.

Untuk itu, sebelum sebuah perusahaan yang ingin melakukan menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan atau K3 hendaknya lebih dahulu memberikan Training Identifikasi Aspek kepada karyawannya.  Kalaupun tidak mendapatkan training, harus dipastikan bahwa orang yang melakukan identifikasi adalah orang-orang yang berkompeten.

Pertanyaannya? bagaimana memastikan bahwa orang tersebut berkompeten? toh ditraining juga belum tentu berkompeten kan?

Nah..itu dia kalau  sudah di training saja ada yang masih belum bisa dianggap belum berkompeten apalagi yang tidak ditraining. Nah lagi, dalam SML /K3 dokumentasi menjadi sangat penting. karena dengan adanya dokumen / record training dapat dibuktikan bahwa orang yang sudah mendapatkan training kan harus ada yang namanya evaluasi training. Nah disinilah pentingnya training, nggak hanya “gone with the wind” tetapi juga ada yang namanya evaluasi training, biasanya ada 4 kriteria. akan kita bahas di bagian lain.

Sebenaranya orang yang sudah memiliki pengalaman dibidang tersebut selama beberapa tahun (saya tidak tahu pasti-yang jelas lebih dari 5 tahun) bisa dianggap berkompeten dibidang tersebut. Sedangkan untuk Identifikasi aspek K3L sendiri belum tentu juga orang tersebut faham dengan yang dimaksudkan dalam standar. Jadinya saya agak memaksakan bahwa training Identifikasi Aspek K3L ini menjadi hal yang wajib.

Hal ini juga tidak lepas dari pengertian bahwa orang yang bekerja tempat kerjanya mengetahui bahaya yang ada di lingkungan kerjanya tersebut. Tentu saja identifikasi aspek K3L yang sudah dilakukan harus disosialisasikan kepada karyawan yang terpapar atau berhubungan baik langsung atau tidak langsung dengan bahaya / aspek yang ada di lingkungan kerjanya tersebut.

Kalau hasil identifikasi tidak disosialisasikan dengan baik, maka tak ubahnya hanya sebuah dokumen tanpa guna. Hanya sekedar mendata saja. Sedangkan dengan identifikasi yang baik dan sosialisasi yang baik diharapkan akan selalu ada perbaikan dan peningkatan, karena identifikasi aspek K3L harus selalu di telaah secara berkala untuk mengetahui keefektifan upaya pengendalian / pengurangan bahaya/aspek yang ada.

Jadi bisa saja untuk satu aspek/bahaya setiap periode tertentu selalu berubah tingkat bahayanya karena selalu dilakukan evaluasi dan semakin ditingkatkan pengemdalian bahaya/resikonya. Dengan demikian setiap ada evaluasi diharapkan akan selalu ada peningkatan.

Bagaimana contoh Evaluasi Aspek K3L?

akan dibahas di bahasan yang tersendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s