Kenapa Tidak menyuruh Ibu itu Mengiris Bawang?

Minggu pagi, 23 Januari 2009, ada seorang anak kecil yang sedang menangis di tepi sungai. Dia sudah beberapa jam di tepi sungai tersebut. Air matanya belum juga kering, lalu ada seorang anak kecil sebayaya yang datang.
“Kenapa kamu menangis Amir?” sapa Hary
“sudah sejak kapan km erdiri di situ?” sahut Amir
” sudah beberapa lama, tapi kenapa kamu menagis?”
” aku hanya ingat ceritamu, Hari. bisakah kamu menceritakannya lagi?

Baiklah saudaraku, aku akan menceritakannya padamu.
Suatu Hari di negeri hujan, ada sebuah keluarga yang sangat miskin. Keluarga itu bahkan makan sehari-hari masih harus bekerja memeras keringat. sampai suatu hari pada suatu malam, dari pagi keluarga itu kelaparan.
Ayah dan ibu mereka hanya mendapatkan sepotong roti yang dibagkan kepada ketiga anaknya.
Karena sangat lapar, sang Ibu pun menangis sambil berdoa.
terjadilah keajaiban yang luar biasa, air mata Ibu utu berubah menjadi Intan Berlian.
Lalu dalam beberapa hari saja keluarga tersebut menjadi kaya.

Karena sudah merasa bahagia, sang Ibu akhirnya jarang sekali menangis. Tetapi ternyata sang Ayah sangat tamak. hari demi hari sang Ayah menyiksa Ibu agar dia menjadi semakin kaya. Beberapa waktu kemudia sang Ibu tidak kuat lagi dengan siksaan Ayah, lalu sang Ibu meninggal dunia.

Karena ketamakannya sang ayah pun akhirnya dia di tinggalkan anak-anaknya. Lalu setelah menghabiskan uangnya dia menjadi kembali miskin. dan akhirnya si Ayah juga meninggal karena meratapi kesalahanya dengan menyiksa istrinya.

“Hai Amir, kenapa kamu masih menangis? menurtku memang si Ayah pantas mati kan? lagi pula dia sangat jahat.” lanjut hari
” Bukan ibu itu yang aku tangisi… kenapa tidak menyuruh ibu itu mengiris bawang saja agar dia bisa mengangis dan tetap bahagia selama hidupnya? bukankan dengan penyiksaan perbuatan yang sangat kejam didunia. Betapa bodohnya si ayah itu sampai tidak berfikir bahwa air mata tidak harus keluar dari penderitaan, air mata bisa keluar dari rasa bahagia. bahkan seandainya pun air mata tak keluar dengan cara penyiksaan banyak cara membuat air mata tanpa harus menyiksa”

“ow…jadi itu yang km fikirkan…?”
“aku baru menyadarinya”

“Benar Amir dan hari betapa kita akan sangat kehilangan orang yang kita bukan sebagai orang secara keseluruhan, tetapi hanya dari apa yang dia hasilkan. Bagimana mungkin kita bisa menjadi bahagia kalau orang yang berarti bagi kita hanya dihitung dari materi belaka. sungguh… manusia secara keseluruhannya adalah hal yang paling berharga, tak perduli dia kecil, remaja, dewasa, bahkan tua, hanya seorang buruh, karyawan biasa atau seorang manager bahkan pemilik perusahaan. semuanya pastas mendapatkan perlakuan bahwa mereka manusia. Bahwa mereka pantas medapatkan perlindungan, dimanapun, dirumah, sekolah ataupun juga di tempat dia bekerja”. Seberharga kalian bagi ku wahai anak-anakku.

diilhami dari sebuah film -kite runer-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s